November 3, 2017

Pengalaman Ranu Kumbolo 2400 Mdpl


Assalamualaikum . .


Seperti biasa saya menyapa pembaca semoga kesehatan tetap bersama kita sekalian. Amin.

Hari ini saya akan sharing pengalaman saya mengunjungi destinasi wisata terkenal di Jawa Timur yakni Ranu Kumbolo yang mempunyai ketinggian 2400 meter diatas permukaan laut. Ranu Kumbolo terletak di kota Lumajang atau lebih dikenal terletak di kaki Gunung Semeru. Perjalanan kali ini terkesan tidak direncanakan karena saya mendapat ajakan dari kawan saya sehari sebelum keberangkatan pada hari kamis malam. Sedangkan kita berangkat pada hari sabtu pagi, waktu yang singkat menjadikan logistik dan perbekalan menjadi kurang maksimal. Saya berangkat bersama kawan saya dan teman teman dari komunitas Green Alam Malang yang notabene berisikan orang-orang yang kenyang pengalaman mendaki gunung. Beranggotakan sekitar 13 orang kami berangkat menuju Ranu Kumbolo via Tumpang Malang. 

Perjalanan memakan waktu sekitar 1-2 jam dari pusat kota Malang kemudian kami beristirahat di Ranu Pane. Sekedar info per tanggal 1 Oktober 2017 wisatawan yang mendaki Gunung Semeru atau ke Ranu Kumbolo diharuskan mengurus tiket wisata melalui online karena pihak pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ( TNBTS ) tidak melayani wisatawan yang tidak menggunakan sistem boking online dikarenakan membludaknya wisatawan yang berkunjung sehingga pihak pengelola membatasi kunjungan di tempat tersebut agar kawasan TNBTS menjadi lebih terkendali. Harga tiket berkisar 75ribu per-orang. Apabila sahabat ingin memboking tiket dan berkunjung ke kawasan ini silahkan memesan tiket di website resmi TNBTS disini dan membeli tiket satu minggu sebelum keberangkatan.


Wisata Lumajang | Ranu Kumbolo 2400 Mdpl
Green Alam Malang

Berangkat pagi dari Malang kami isitirahat di Pos Ranu Pane untuk mencari kopi, makan dan merebahkan badan sejenak setelah menempuh perjalanan panjang mengendarai kendaraan roda dua. Setelah dirasa cukup kami melanjutkan ke masuk untuk memarkir motor kami di sekitar kawasan. Harga parkir sekitar 10ribu permotor karena kami menginap semalam di Ranu Kumbolo. 


Wisata Lumajang | Ranu Kumbolo 2400 Mdpl
rehat perjalanan di Ranu Pane


Perjalanan kami mulai dengan memanjatkan doa bersama agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan sewaktu perjalanan. Melewati lebatnya semak-semak, sedikit licin karena hujan dan jalan yang menanjak sudah menyapa kami di awal perjalanan. Beban perbekalan yang lumayan berat membuat nafas mulai tersengal-sengal. Sesekali kami berisitirahat mengatur pernapasan dan meminum air yang kami bawa. Letihnya badan tidak dirasa terlalu berat karena di waktu perjalanan kami salaing bercanda satu sama lain sehingga perjalanan yang menanjak dan terjal mampu kita lewati bersama dengan menyenangkan. Sekedar info untuk menuju ke Ranu Kumbolo kita harus melewati beberapa 4 pos. Di setiap pos ada warung yang menyediakan makanan,kopi,air minum dsb beberapa wisatawan lokal maupun mancanegara juga terlihat lalu lalang di sekitaran pos. Sesekali mereka terlihat mengambil gambar dan bercengkrama dengan pendaki lain. Sayangnya saya tak menyempatkan mengambil gambar karena badan yang mulai capek lagipula waktu itu cuaca sedang gerimis.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali menuju pos-pos selanjutnya. Suasana dingin mulai menyelimuti kami. Diantara lebatnya hutan sesekali terdengar suara kicauan burung-burung yang masih nyaring berbunyi. Hijaunya dedaunan membuat mata menjadi segar dan suasana hati tenang jauh dari nuansa kebisingan kota penuh polusi udara. Perjalanan kami mulai berat karena medan yang didepan semakin sulit. Turunnya kabut dan rintikan hujan manambah hawa dingin. Tanjakan-tanjakan terjal semakin terlihat di depan mata kami. Berkata di dalam hati ya iyalah namanya juga gunung semakin nanjak semakin dingin hehehe. Namun karena dalam perjalanan sesekali bercanda, memutar musik, bernyanyi dengan kawan-kawan beban yang dirasa berat mengurangi rasa lelah yang hinggap pada kami.


Wisata Lumajang | Ranu Kumbolo 2400 Mdpl
Cak Nawi kawan kami menyempatkan beribadah di tengah perjalanan

Beberapa pos sudah kami lewati tidak terasa kami sebentar lagi sampai di Ranu Kumbolo. Papan penunjuk menyatakan kami telah tiba di kawasan Watu Rejeng 4,5KM sebelum Ranu Kumbolo. Dengan semangat kami mulai mempercepat langkah kami menuju lokasi sehingga bisa mendirikan tenda sehingga bisa istirahat. Semakin menuju ke kawasan danau, terlihat di samping kami danau yang besar di tengah ketinggian saat ini. Kami heran kenapa bisa ada danau di ketinggian mencapai 2400mdpl? Jawabnya mungkin pembaca sekalian ada yang mengetahui informasi tentang danau tersebut.

Wisata Lumajang | Ranu Kumbolo 2400 Mdpl
Sampai di Pos 3


Dengan suasana dingin semakin memuncak ditambah kabut dan hujan yang semakin deras akhirnya kami tiba di Ranu Kumbolo. Hujan yang deras membuat kami menunda membuka tenda menunggu hujan agak reda. Setelah dirasa sudah istirahat hujanpun semakin reda kami melanjutkan ke lokasi mendirikan tenda. Kami membawa 4 tenda, 2 berukuran besar dan 2 berukuran kecil. Beberapa orang juga terlihat buru-buru mendirikan tenda karena hujan turun semakin deras. Tenda yang kami dirikan saling berdekatan sehingga bisa menjadi "Ruang Keluarga" sementara. Kegiatan seperti mengobrol, makan bersama bisa kami lakukan dikarenakan tenda yang berjarak dekat. Setelah tenda semua sudah berdiri kami melanjutkan perbincangan kami ditemani hangatnya kopi. Perut yang sudah lapar membuat kawan kami membuat hidangan, menanak nasi, menyiapkan logistik yang sudah kami bawa daalm perjalanan tadi. 


Wisata Lumajang | Ranu Kumbolo 2400 Mdpl

Menatap jalan setapak , bertanya - tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda

Dewa 19 - Mahameru


Penggalan lagu dari Dewa 19 tadi merupakan gambaran yang cocok dalam melakukan perjalanan saya kali ini. Tenda menjadikan satu-satunya kehangatan kami disamping juga rasa kekeluargaan diantara kami juga menambah kehangatan yang luar biasa di antara kabut tebal yang beberapa kali menyapa kami. 


Wisata Lumajang | Ranu Kumbolo 2400 Mdpl

Sayangnya sewaktu di Ranu Kumbolo kami tidak bisa melihat sunrise karena matahari terhalang kabut. Menurut kawan kami bulan terbaik untuk datang ke sini adalah sekitaran Juli-Agustus karena matahari tepat berada ditengah-tengah bukit dan kabut masih belum terlalu tebal seperti saat ini.  Terlihat semacam prasasti atau tanda di beberapa titik di lokasi Ranu Kumbolo. Setelah saya hampiri ternyata adalah tempat dimana tenda/lokasi pendaki yang meninggal disini. Diberikan tanda tersebut untuk menghormati mereka yang sudah pernah disini. Sayapun memanjatkan doa untuk mereka semoga arwah mereka diterima disisi Tuhan. Sesekali saya menanyakan kenapa mereka sampai meninggal? Banyak yang menduga mereka mempunyai sakit sebelum pergi ke tempat ini. Setelah di tempat ini sakit mereka kambuh dan meniggal di tempat tersebut. Begitulah saya kurang informasi.

Wisata Lumajang | Ranu Kumbolo 2400 Mdpl

Setelah berkeliling sekitaran danau lau sarapan dan meminum kopi saya dan beberapa rombongan menyempatkan diri ke Tanjakan Cinta sebuah bukit yang merupakan jalaur menuju Gunung Semeru. Disana saya merasakan kekecewaan lagi karena bunga-bunga , savana yang terlihat di jalur menuju kesana terkesan kering. Jadi ketika mengambil gambar biasanya terlihat hamparan hijau kini terlihat gersang.


Wisata Lumajang | Ranu Kumbolo 2400 Mdpl
Tanjakan Cinta

Ranu Kumbolo menjadi salah satu pengalaman pertama saya. Sebelumnya saya tidak pernah mengunjungi tempat ini. Sempat akan diagendakan beberapa kali tetapi akhirnya gagal dalam situasi dan kondisi yang tidak tepat pada saat itu. Alam memberikan saya setiap pelajaran berharga. Sewaktu di sekolah dasar kita diajarkan sifat tenggang rasa, gotong royong, jujur dll. Saya anggap itu semua teori jarang orang mengaplikasikan nilai-nilai tersebut di tengah masayarakat. 

Namun hal itu tidak berlaku di gunung atau alam seperti ini. Nilai-nilai tersebut seolah sudah bukan menjadi teori, bagaimana kita saling gotong-royong mendirikan tenda, tenggang rasa satu sama lain, jujur ketika kita letih, bersikap sopan pada alam sekitar dsb. 

Menurut saya, alam adalah tempat terdekat pertemuan kita dengan Tuhan selain beribadah sepanjang waktu. Orang kuno dahulu sering bertapa di gunung yang tinggi, ditengah hujan, dingin dan lainnya. Mereka menganggap titik terdekat munuju Tuhan di bumi adalah gunung. Di Ranu Kumbolo tengah malam saya mengalami sendiri apa itu sunyaruri. Ketika semua semesta tertidur hanya ada saya, alam dan Tuhan yang tidak tidur. Tentu saja Tuhan tidak tidur. Akan tetapi dalam Sunyaruri keheningan yang kita rasakan adalah keheningan murni sebagai diri manusia sendiri akan kemana kita akan pergi, apa tujuan kita disini dan apa yang kita tuju. Wallahu Alam, Subhanallah . .

Dalam perjalanan saya kali ini menjadikan perjalaanan yang sangat berkesan. Terima kasih kepada Tuhan syukur tiada henti atas rahmat dan segalanya. Terima kasih kepada teman-teman Komunitas Green Alam Malang yang sudah sangat membantu dalam perjalanan kali ini. Terima kasih kepada Ranu Kumbolo atas indahnya dan terima kasih kepada para pembaca yang sudah menyempatkan membaca tulisan saya. Mudah-mudahan kesehatan selalu pada kalian agar suatu saat bisa berkunjung ke Ranu Kumbolo. Amin. 

Sampai jumpa di cerita selanjutnya
Wassalamualaikum

M. Rohman Wijaya

November 2, 2017

Pengalaman Memuncak Kawah Ijen Blue Fire 2400mdpl

Assalamualaikum
Apa kabar kawan? Semoga tetap dalam keadaan sehat dan selamat. Amin .

Hari ini saya akan membagikan cerita saya mengunjungi salah satu destinasi menarik di Banyuwangi, Jawa Timur yaitu Kawah Ijen. Jarak Kawah Ijen dari pusat kota Banyuwangi adalah sekitar 50KM. Saya berangkat menuju Banyuwangi menggunakan transportasi kereta api. Harga tiket sekitar 60ribu sekali berangkat. Lama perjalanan dari kota Malang sekitar 7-8jam, berangkat jam 4 sore dan tiba di Stasiun Karangasem sekitar jam 12 malam. Saya turun di Stasiun Karangasem sebelum stasiun terakhir Ketapang. Kebetulan ada teman saya yang kerja di Banyuwangi,dia menjemput saya di Stasiun Karangasem dan memberi tumpangan untuk tidur. Untuk menuju Kawah Ijen stasiun yang paling dekat adalah Karangasem. Sewaktu perjalanan banyak ditemukan turis mancanegara yang hendak menuju Kawah Ijen sebagian dari mereka menuju ke Pulau Bali.


Pengalaman Memuncak Kawah Ijen Blue Fire 2400mdpl

Setelah sampai di Banyuwangi saya beristirahat dulu di tempat teman saya lokasinya dekat pusat kota Banyuwangi.Esok paginya teman saya berangkat kerja sedangkan saya libur, waktu itu hari sabtu. Sembari menunggu teman saya pulang kerja saya menyiapkan beberapa perlengkapan untuk ke Kawah Ijen. Diantaranya jaket tebal,topi,sarung tangan,perbekalan,senter dll karena kami akan memuncaki kawahnya malam hari untuk melihat blue fire, yaitu api biru yang muncul di sela-sela bebatuan belerang maka dibutuhkan senter dan jaket tebal untuk menghangatkan tubuh. Malam hari kami berangkat bersama 1 orang kawan lagi total menjadi 3 orang berangkat dari pusat kota Banyuwangi kami menggunakan kendarran roda dua. Jarak tempuh yang lumayan jauh sekitar 1-2jam menuju lokasi Kawah Ijen. Di dalam perjalanan kami sedikit kesulitan karena waktu itu gerimis , berkabut dan kurangnya penerangan di perjalanan membuat kami agak sedikit hati-hati dalam berkendara. Di samping itu juga jalan yang menanjak dan berkelok-kelok dibutuhkan skill berkendara yang mumpuni.
Sesampainya di lokasi, ternyata pintu masuk Kawah ijen dibuka tepat jam 1 dini hari. Karena masih lama kami menunggu di sebuah warung kopi tepat di depan gerbang kawah ijen sekaligus menghangatkan diri mumpung ada api unggun hehe. Untuk tiket masuk berkisar diharga 10-15ribu dan 5ribu untuk parkir kendaraan roda dua.


Pengalaman Memuncak Kawah Ijen Blue Fire 2400mdpl
para pendaki menunggu dibukanya pintu menuju kawah ijen

Akhirnya pendakian dimulai, pintu sudah dibuka oleh petugas. Sebelum berangkat kami berdoa bersama-sama mudah-mudahan diberi keselamtan dan kelancaran saat perjalanan. Sekedar info, jarak menuju kawah lumayan jauh dengan ketinggian mencapai 2400mdpl dengan kondisi jalan tanah padat agak sedikit berpasir. Estimasi waktu perjalanan sekitar 2 jam jalan kaki membuat kami ngos-ngosan. Bila tidak kuat kamipun istrirahat sedikit lalu melanjutkan perjalanan kembali. Gelapnya malam yang hanya di terangi cahaya bulan dan senter para pendaki membuat saya tidak maksimal untuk mendokumentasikan perjalanan kami. Mencoba sedikit mengambil gambar ternyata tidak tampak, gambar noise dimana-mana akhirnya saya urungkan dan melanjutkan perjalanan kami sampai ke kawahnya.

Memuncak di kawah ijen adalah pengalaman pertama saya ini juga dirasakan teman saya. Apalagi naik gunung di tengah malam membuat pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan bagi kami.Dingin, gelap, dan kurangnya penerangan membuat kami merasa senang,capek dan haru menjadi satu. Beberapa orang yang lewat menyemangati kami agar bisa cepat sampai di atas. Terlihat banyak orang tua yang mengajak anaknya yang masih kecil membuat kami bersemangat untuk menuju ke puncak kawah.

Setelah beberapa tanjakan kami lewati sampailah kita pada Kawah Ijen sekitar jam 3 pagi. Cahaya bulan adalah satu-satunya penerangan di sana. hawa dingin dan angin yang bertiup membuat keadaan semakin dingin membekukan darah-darah kami. Terlihat beberapa orang duduk-duduk memijat kaki mereka karena kecapekan. Lokasi blue fire masih mengharuskan kita untuk turun ke bawah tak banyak waktu kita bergegas menuruni sisi kawah. Sebagian orang menjajakan penyewaan untuk masker dikarenakan gas belerang di kawah sangat berbahaya bagi pernapasan kita sehingga bisa  mengakibatkan sesak napas bahkan sampai kematian. Harga sewa masker bervariasi sekitar 15-20ribu per masker. 

Menuruni kawah dengan bebatuan dan jalan yang sangat curam membuat kaki saya agak pegal. Posisi turun seperti ini lebih capek menurut saya daripada saat saya berada di tanjakan. Kaki yang mengerem di sepanjang jalur membuat kaki nampak kesemutan. Perjalanan ini banyak terdapat bule/turis mancanegara yang ikut turun ke bawah melihat blue fire. Konon blue fire semacam ini hanya ada 2 di dunia satunya lagi berada di Benua Antartika. Banyak orang dan antri ketika turun menjadikan suasana keakraban dan saling tolong menolong antara satu sama lain kian besar. Beberapa orang terpleset dan jatuh karena tidak hati-hati dalam mengambil langkah. Semakin ke bawah semakin bau belerang menyengat namun keberuntungan pada kami dikarenakan angin yang berhembus membawa asap belerang tidak mengarah kami bahakan menjauhi. 

Sesekali saya berpapasan dengan para penambang belerang yang memuat sekitar 70-80kg batu belerang dengan cara di gotong menggunakan keranjang kayu mirip penjual jajanan di pasar. Saya tanya berapa harga per-kg batu bila dijual? Bapak tersebut menjawab sekitar 700-800 rupiah per-kgnya. Bayangkan dengan beban seberat itu bapak-bapak tersebut masih kuat naik tutun kawah setiap hari walaupun bahaya gas belerang mengintai mereka namun perjuangan mereka bisa menjadi panutan dan inspirasi bagi kita agar kita tak gampang mengeluh dengan apa yang terjadi.

Pengalaman Memuncak Kawah Ijen Blue Fire 2400mdpl
berfoto dengan penambang saat naik

Shubuh menjelang para wisatawan semakin banyak terlihat blue fire nampak cantik dari kejauhan. Kecapekan dan kaki yang tidak bisa dikendalikan saya pun duduk-duduk dan mencoba sesekali memotret yang ada dihadapan saya. 

Pengalaman Memuncak Kawah Ijen Blue Fire 2400mdpl
asap belerang yang membahayakan

Shubuh sudah lewat, sedikit orang sedang melaksanakan sholat shubuh di kawasan kawah. Hari semakin terang dan semakin banyak wisatawan yang lalu-lalang di hadapan saya. Ada yang mau pulang dan ada yang baru datang. Semakin terang semakin Kawah Ijen terlihat cantik. Air kawah yang hijau biru, bebetuan belerang yang kuning, dinding tebing yang berwarna keabuan membuat nampak elegan dan cantik seperti layaknya di eropa hehe. Matahari sudah mulai terlihat dan saya tak sungkan lagi untuk berfoto ria disini. Sesekali drone lewat diatas saya yang dimiliki wisatawan membuat Kawah Ijen sepertinya lebih keren dipotret dari atas.

Pengalaman Memuncak Kawah Ijen Blue Fire 2400mdpl
terlihat cantik

Oh iya karena tidak terlalu menuruni kawah saya tidak bisa mendokumentasikan blue fire. Minimnya cahaya dan kondisi kaki yang sudah pegal ditambah semakin dingin akhirnya saya mengurungkan niat untuk semakin kebawah menuruni kawah. Takutnya terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Sesampainya dari bawah kawah saya kembali ke atas untuk istirahat sejenak dan kembali pulang. Beberapa penambang batu belerang menjajakan batu belerang yang di bentuk rupa-rupa sehingga orang tertarik membelinya. Harganya berkisar 5-50ribu tergantung besar dan kecilnya batu belerangnya. Nampak juga dari kejauhan ada bonus pemandangan indah yang tidak bisa kami nikmati di perjalanan memuncak malam dini hari tadi. Setelah siang kembali ternyata disekeliling kawah banyak pemandangan indah dan spot foto yang keren. Tak banyak waktu kamipun selfie disini hehe.

Pengalaman Memuncak Kawah Ijen Blue Fire 2400mdpl
cindera mata dari batu belerang


Pengalaman Memuncak Kawah Ijen Blue Fire 2400mdpl
negeri di atas awan 
Demikian setelah berhasil memuncak di 2400mdpl Kawah Ijen Banyuwangi saya senang dan bersyukur sudah bisa kesini, bagi kawan pembaca yang belum pernah kesini mari berkunjung ke destinasi yang satu ini dijamin tidak menyesal dan menjadi pengalaman yang seru bagi kalian. Ada satu lagi tetangga Kawah Ijen yaitu terletak di Bondowoso yang bernama Kawah Wurung. Ada padang savana yang keren disana, namun saya tidak sempat mampir ke Kawah Wurung dikarenakan terbatasnya waktu, jarak dan lokasi yang tidak memungkinkan.


Sampai jumpa lagi di postingan saya berikutnya mengunjungi tempat yang keren lainnya. Jaga kelestarian alam dan jangan membuang sampah sembarangan karena alam ini alam kita juga. Siapa lagi yang akan menjaganya kalau tidak dimulai dari diri sendiri.

Salam lestari
Wassalamualaikum . .

M. Rohman Wijaya


November 1, 2017

Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ? Part 3 Gunung Bromo

Assalamualaikum . .

Hai sobat . .
Sudah lama nih nggak nulis , maklum kebanyakan urusan jadi belum ada waktu buat nge-blog

Kali ini saya akan membagikan pengalaman saya menjelajah kawasan TNBTS Bromo Tengger Semeru, kali ini saya mengunungi salah satu gunung yang ada di pulau jawa yaitu Gunung Bromo.

Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ? Part 3 Gunung Bromo


Gunung Bromo merupakan gunung yang konon masih aktif hingga saat ini, untuk mencapai ke gunung ini saya berangkat melalui jalur Tumpang, Malang, oh ya ada jalur juga untuk mencapai gunung ini, yaitu melewati Nongkojaajr, Pasuruan atau Probolinggo.

Dengan tetap mengendarai motor kesayangan si Yamaha Vega, kali ini saya ditemani kakak saya dan temannya, kakak mengendarai Honda Supra Fit yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa menyerupai Trail/Odong-Odong, sedangkan temannya yang juga mekanik saya nih hhe mengendarai Honda C-70 , uedaan tenan . .

Untuk rute kali ini saya melewati jalur yang tidak umum, yaitu jalur jarakijo, jarakijo apa jalakijo ya saya lupa hehe, jadi lewat sisi barat Bromo, cmiiw.

Jalur ini lumayan Offroad, ada banyak lumut,pasir,bebatuan,jalan berlobang, naik turun,sedikit jalan mulus, dsb melewati jalur ini sangat memacu adrenalin, dibutuhkan skill diatas rata2 pemotor juga nih hehe

Oke lanjut, pengalaman melewati jalur ini lumayan berat haha maklum masih pemula seperti saya ini agak kaget dengan kondisi jalan tidak umum. Mengendalikan motor layaknya crosser2 tangguh, dan sesakali terjatuh hehe tapi so happy, menyenangkan sekali. Sempat ciut nyali ketika ada jalan yang sangat tidak layak untuk dilewati, tapi melihat Cak Nawi yang mengendarai Honda C-70 dengan enjoy sekali melewati rute kali ini, akhirnya dengan semangat saya gas terus, masak kalah sama honda lawas ini gumamku haha

Akhirnya setelah hampir sampai , kami berhenti untuk istirahat sejenak , sekalian nemu spot yang bagus untuk foto2 , wah pemandangan sangat bagus tersaji disini, yah bisa dibilang anti mainstream lah, biasanya orang kan foto di sekitar Penanjakan, Lautan Pasir, tapi ini kami ada di sisi lain Bromo, wah so excited . .

Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ? Part 3 Gunung Bromo


Kami lanjutkan perjalanan setelah foto2 dan rehat , rute selajutnya kami akan menuruni jalan untuk menuju kebawah menuju ke lautan pasir bromo. Disisi ini jarang ada orang lewat sesekali orang yang berkebun atau pencari rumput, sesekali juga pengunjung, mungkin mereka lewat Pasuruan/Probolinggo kurang tahu juga, tujuan kami berikutnya untuk mengunjungi salah satu tempat ibadah yang terdapat di kawasan bromo ini. Nama tempatnya kalau saya tidak salah adalah Widodaren, konon kata penduduk sini Widodaren adalah salah satu tempat pertapaan salah satu Ratu/Putri dari Kerajaan terdahulu untuk mencari ketenangan batin.



Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ? Part 3 Gunung Bromo


Sesampai di lautan pasir kami berhenti sejenak untuk mengabadikan momen dan sejenak istirahat, kami sampai disini sekitar jam 11-12 siang. Duduk di kawasan ini rasanya aneh karena matahari terik yang panas ada diatas kami tetapi hawa sekitar yang dingin membuat suhu badan galau haha


Salam Adventure !

October 31, 2017

Backpacker Kulonprogo

Assalamulaikum kawan . .
Semoga sehat selalu hari ini

Kali ini saya akan melanjutkan cerita perjalanan kami sebelumnya di Jogjakarta, bagi yang belum sempat membaca silakan cek di sini Backpacker Jogjakarta πŸ˜€


Wisata Kulonprogo | Bukan Backpacker Kulonprogo
Edited by Google Snapseed

Setelah kami menghabiskan beberapa hari di Jogjakarta akhirnya kami melanjutkan ke tempat selanjutnya yaitu Kulonprogo tepatnya kami akan mengunjungi tempat wisata bernama Kalibiru. Kami bertolak dari tempat penginapan kami ke Kalibiru via Google Maps kurang lebih berjarak sekitar 30-40Km dengan estimasi perjalanan sekitar 1,5 jam menggunakan mobil yang kami sewa dengan cost sekitar 500ribu include sopir, bensin dan mobil.

Sekedar info di Kulonprogo banyak sekali ditemukan wisata-wisata yang mengusung tema alam sebagai andalannya. Seperti Bukit Isis, Kebun Teh Nglinggo, Waduk Sermo dll. Dalam Perjalanan kami menuju Kulonprogo beberapa pemandangan indah menyapa kami. Berbeda dengan Jogjakarta yang panas, diperjalanan ini kami melihat beberapa sawah yang masih terhampar luas,jalan yang sepi,pemandangan yang indah dan sejuknya udara disekitar.

Wisata Kulonprogo | Bukan Backpacker Kulonprogo
Ijo-ijo seger 
Setelah perjalanan sudah sampai di tempat tujuan kami langsung bergegas menuju ke tiket masuk untuk membeli karcis. Karcis masuknya di kisaran harga 10ribu. Di pintu masuk kita juga bisa berfoto dengan burung yang ada di tempat tersebut dengan membayar sekitar 5ribu perfoto.


Wisata Kulonprogo | Bukan Backpacker Kulonprogo
Pintu masuk Kalibiru

                                                
Dari pintu masuk menuju kawasan terhitung dekat dengan jalan kaki kita sudah sampai di beberapa spot yang berlatar belakang Danau/Waduk. Ada tiga spot yang sudah disediakan oleh pengelola dan terihat beberapa spot adrenalin bagi yang menyukai tantangan seperti Flying Fox. Terlihat juga bberapa warung makanan tapi sayangnya sampah masih menjadi perhatian serius karena terlihat bberapa sampah masih bertebaran di sekitar area wisata πŸ˜”. Untuk yang sekedar foto pihak pengelola yang menurut informasi adalah remaja/warga sekitar sudah menyediakan Fotografer dan beberapa papan kayu bertuliskan "kalibiru" yang bisa dipakai saat pemotretan. tapi sayangnya kami mengurungkan niat karena terlihat banyak pengujung yang antri untuk berfoto di area tersebut. Akhirnya kami mencari lokasi foto dan cekrek-cekrek menggunakan kamera handphone sendiri hehe πŸ˜†.
Wisata Kulonprogo | Bukan Backpacker Kulonprogo
tempat spot foto
Wisata Kulonprogo | Bukan Backpacker Kulonprogo
ais lagi nyoba adrenalin

Karena mengejar waktu ke lokasi lainnya di Kulonprogo, kami tidak banyak waktu disini maka kami melanjutkan perjalanan ke lokasi wisata lainnya yaitu Kebun Teh Nglinggo dan Bukit Isis. Jarak dari Kalibiru ke Bukit Isis lumayan jauh kata bapak sopir. Perjalanan memakan waktu sekitar 1,5jam setelah kami cek via Google Maps. Aplikasi Google Maps sangat membantu kami menemukan lokasi-lokasi yang akan kami kunjungi di beberapa tempat di Kulonprogo.

Wisata Kulonprogo | Bukan Backpacker Kulonprogo
Kalibiru ke Bukit Isis via Google Maps

Bukit Isis ( Isis dalam bahasa indonesia artinya sejuk ) merupakan tempat yang cukup tinggi dengan perjalan beberapa kali berbelok dan menanjak. Disini kita bisa merasakan kesejukan alam jauh dari hingar bingar kota yang panas dan polusi hehe. Pihak pengelola menyediakan spot-spot lokasi untuk mengambil gambar dibandingkan di Kalibiru disini tidak menyediakan fotografer, item foto dll untuk mengambil gambar dan tempatnya lebih bersih dan asri dari Kalibiru menurut kami. Tiket masuk kawasan ini di sekitaran 5ribu dan anda bisa berfoto dan menikmati alam sepuas hati. Berikut foto-foto kami yang sedang berfoto disana beberapa foto diedit menggunakan aplikasi Snapseed.


Wisata Kulonprogo | Bukan Backpacker Kulonprogo


Setelah rehat dan puas berfoto disana kami melanjutkan ke tempat wisata yang lain yang tak jauh dari Bukit Isis yaitu Kebun Teh Nglinggo dan Bukit Jaran. Dengan berjalan kaki kami menuju kesana dengan kondisi jalan agak menanjak dan lumayan panas karena matahari sedang diatas kami. Berikut foto kami saat melakukan perjalanan dan di lokasi. 

Menurut kami berwisata ke Bukit Isis, Kebun Teh sangat berkesan karena tempat yang bersih , murah dan jauh dari hingar bingar kota yang padat. Setelah puas foto bersama di lokasi kami segera melanjutkan perjalanan pulang ke Jogjakarta. Kami mengontak sopir kami yang sudah lama menunggu di parkiran lokasi. Setelah rehat sejenak akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang ditengah perjalanan kami menyempatkan rehat ishoma di sebuah musholla terdekat dan kebetulan kami ditawari bapak sopir untuk mengunjungi Waduk Sermo yang menjadi latar belakang foto di Kalibiru tadi.

Akhirnya kami menyempatkan berkunjung ke tempat tersebut sekedar ingin tahu dan mengambil gambar biaya masuk juga cukup murah sekitar 5ribu. Saat kami mengunjungi tempat tersebut kami bertanya pada sejumlah warga. Menurut warga sekitar kawasan Waduk Sermo akan dibangun dan ditata seperti kalibiru dan menjadi destinasi wisata yang lebih baik dari sebelumnya. yang menarik ditengah waduk terdapat gubuk yang mengapung di atas air untuk menuju kesanabisa menggunakan perahu yang sudah disediakan. Berikut foto-foto kami di Waduk Sermo atau Taman Bambu Air Sermo.



Wisata Kulonprogo | Bukan Backpacker Kulonprogo



Sore sudah menjelang dan kami segera melanjutkan perjalanan kembali. Karena dirasa masih kurang puas kami mencoba searching via Google untuk mengetahui lokasi wisata di sekitar perjalanan kami dan kami menemukan lokasi wisata Hutan Manggrove tanpa berpikir lama kami menyempatkan mampir lagi hehe. Harga tiket sekitar 5ribu saja dan kami langsung masuk dengan berjalankaki menyusuri jalan yang terbuat dari bambu. Sewaktu ditepian Manggrove saya menemukan hal yang saya cari yaitu senja. Sebagai pecandu senja ini momen yang sangat saya nantikan. Akhirnya bertemu dengan senja.


Wisata Kulonprogo | Bukan Backpacker Kulonprogo


Capek dan lapar sudah menggangu, kami segera melanjutkan perjalanan pulang menuju Jogjakarta. Hari ini sangat melelahkan karena berjalan kaki. Tapi, sangat menyenangkan karena bisa berkunjung di Kulonprogo. Banyak sekali wisata alam yang belum kami kunjungi disini mungkin suatu saat bisa kembali kesini dengan lebih hari dan waktu sehingga wisata wisata alam yang ada di sini bisa kami eksplor dengan baik.

Sesampainya di Jogjakarta kami bergegas menuju penginapan untuk ishoma. Malam ini adalah malam terakhir bagi kita ( nyanyi ) di Jogjakarta setidaknya kami menikmati momen malam ini dengan pergi jalan-jalan ke tempat sekitar Malioboro. Kami membeli makanan dan minuman di skitaran Malioboro pergi ke Mall terdekat. Karena keadaan saya yang sedang flu maka saya tidak ikut teman saya untuk membeli Kopi Joss yang terkenal di Jogjakarta. Saya lebih memilih istirahat untuk menjaga kondisi menghadapi perjalanan pulang ke Malang. Liburan kali ini berkesan bagi kita karena setelah dari sini Affie dan Ais akan melangsungkan pernikahan mereka sedang saya masih belum menikah wkwk.



Wisata Kulonprogo | Bukan Backpacker Kulonprogo
Kopi Joss

Wisata Kulonprogo | Bukan Backpacker Kulonprogo
Wedang Ronde 

Demikian cerita saya dan sahabat saya berkunjung ke tempat menarik di Jogjakarta dan Kulonprogo bila ada kata/kalimat di cerita ini yang menyinggung atau salah kata saya sebagai manusia meminta maaf, semoga cerita ini bisa menginspirasi kalian yang membacanya. Tinggalkan komentar bila ingin memberi saran dan kritik. Jangan lupa ikuti cerita perjalanan saya selanjutnya di Kawah Ijen Banyuwangi disini Pengalaman Memburu Blue Fire 2400mdpl Kawah Ijen

Tetap semangat, bersyukur dan jangan lupa bahagia.

Wassalamualaikum . .

M. Rohman Wijaya

Backpacker Jogjakarta

Assalamualaikum . .

hai sobat πŸ˜„

Setelah vakum lama gak nulis blog akhirnya ada kesempatan saya nulis lagi 😜kali ini saya akan share cerita perjalanan kami, ya kami karena ada 2 sahabat saya sejak SD kebetulan perempuan yang akan menemani saya berkunjung ke salah satu destinasi andalan Jawa Tengah yaitu Kota Jogjakarta. Kami berangkat sekitar bulan Oktober tahun 2016 kami berangkat dari Kota Malang menuju Jogjakarta dengan menggunakan transportasi Kereta Api waktu itu harga tiketnya sekitar 160-170ribu per-orang.


Backpacker Pemula Jogjakarta



Berangkat dari Stasiun Kota Baru Malang sekitar pukul 19.00WIB, perjalanan menuju ke Stasiun Tugu Jogjakarta memakan waktu kurang lebih 10jam πŸ˜‘. Setelah di dalam kereta api kami sempat mengobrol hal apapun untuk menghabiskan waktu. Singkat cerita sudah larut malam akhirnya kamitertidur, pada tengah malam kami bangun karena lupa untuk booking penginapan karena semua mulai panik dan bingung takut nggak dapat penginapan 😣. Telpon sana sini browsing dll banyak penginapan yang menolak karena harus boking sebelumnya nggak bisa mendadak. Setelah menunggu respon beberapa jam alhasil kami dapat penginapan di sebuah hotel bernama Hotel Puspa Nugraha sekitar Jalan Sosrokusuman dekat Malioboro. Tarifnya terbilang terjangkau sekitar 150-300an per-kamar. Kemudian kami menginap dengan memesan 2 kamar dengan fasilitas yang sederhana.
Setelah istirahat yang cukup mandi, sarapan pagi dll kami mulai menikmati Jogjakarta dimulai dari Malioboro. Sebetulnya tujuan kami adalah di sisi barat Jogjakarta yaitu Kulonprogo. Jadi kami tidak lama-lama di Jogjakarta, karena harus menyiapkan fisik kami untuk ke Kulonprogo. Kami memilih Kulonprogo karena destinasi wisatanya menarik untuk dikunjungi. Di Jogjakarta kami berkunjung di beberapa spot wisata di daerah Malioboro, seperti Benteng Vredeburg, Keraton Jogjakarta, Taman Sari dll πŸ˜„.


Backpacker Pemula Jogjakarta
cuaca panas ketika di dalam Benteng Vredenburg 


Backpacker Pemula Jogjakarta
selpih di depan Benteng Vredenburg 


Pada hari itu kebetulan hari jumat karena saya harus Sholat Jumat dulu akhirnya mereka saya tinggal di keraton dan saya bergegas menuju masjid di sekitar luar keraton. Kebetulan saya sholat di masjid yang tua di kawasan tersebut yaitu Masjid Gedhe Kauman yang sangat nyaman dan bersejarah dengan bangunan yang terbuat dari beberapa kayu besar menjadikannya Masjid yang bernilai sejarah tinggi.


Backpacker Pemula Jogjakarta

Oh iya ada cerita menarik ketika ke kami di Taman Sari πŸ˜ƒ, karena kami yang buta maps dan nggak tahu jalan menuju ke Taman Sari akhirnya kami menyewa becak untuk munuju ke sana. Sesampainya disana ternyata kami ke Taman Sari dilewatkan lewat pintu belakang oleh abang becaknya. Alhasil ketika sampai ke pertengahan kawasan Taman Sari kami diminta menujukkan tiket masuk ke kawsan tersebut. Karena kami belum beli tiket akhirnya kami beli di pintu masuk yang jauh dari posisi kami saati itu. Karena cuaca panas dan menjelang ishoma akhirnya kami mencari tempat berteduh sambil menikmati Es Dawet Taman Sari harganya sekitar 10ribu. Di sana kami hanya mengunjungi bberapa spot yang ada di Taman Sari dan sialnya belum berkunjung ke titik pusat wisata tersebut yaitu Taman Sarinya sendiri haha apes πŸ˜“ . .


Backpacker Pemula Jogjakarta
Es Dawet Taman Sari 

Setelah istirahat kami melanjutkan perjalanan menuju ke salah satu destinasi wisata terkenal yaitu Candi Prambanan. Kami menuju ke Malioboro terlebih dahulu untuk menuju halte Trans Jogja. Kami menggunakan Trans Jogja untuk menuju ke kawasan Candi Prambanan karena jaraknya cukup jauh dari pusat kota Jogjakarta dan dirasa lebih murah dan nyaman biaya sekitar 10-15ribu per orang pokoknya recomended lah πŸ˜ƒ.

Backpacker Pemula Jogjakarta
nyelpih lagi di Trans Jogja 

Sesampai halte terakhir pemberhentian Trans Jogja yaitu di dekat Candi Prambanan ternyata jarak post tiket masuknya dari halte lumyan jauh. Beberapa orang di sekitar kami menyarankan naik ojek, karena takut mahal akhirnya kamipun nekat jalan kaki untuk menuju pintu utama candi. Saat kami jalan kaki ke candi kami beberapa menanyakan jam tutup loket candi karena hari sudah sore sekitar pukul 4 sore. Setelah tanya kesana kemari ada beberapa warga sekitar yang memberitahukan kalau loket akan tutup sebentar lagi 😱. Alamak, setelah energi terkuras di Taman Sari sebelumnya ternyata kita dihadapkan harus lari-lari menuju loket candi.


Backpacker Pemula Jogjakarta


Sampai pada akhirnya ada warga yang nyeletuk ke kami "wah kesoren mas, mbalek ae mene isuk rene maneh, loket wes tutup" yang bisa diartikan menyarankan kami kembali besok pagi karena loket dipastikan tutup 😀. Kamipun gak menyerah untuk menuju ke lokasi dengan nafas tersengal-sengal capek, haus dan ketawa-tawa di jalanan akhirnya kami sampai di tiket masuk dan bernegosiasi dengan pihak loket untuk masuk sebentar dan terbelilah tiket yang seharga 30ribuan untuk 2 tempat yakni Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko. Dikarenakan waktu yang tidak memungkinkan akhirnya Candi Ratu Boko kami urungkan dan menikmati Candi Prambanan yang sudah didepan mata. Dan tara akhirnya kesampaian juga ke Candi Prambanan yang keren, foto cekrek sana sini, minum, istirahat sebentar dan petugas keamanan candi pun menegur kami "mas,mbak mohon maaf untuk meninggalkan lokasi, karena kami sudah akan tutup". Walah, benar saja sudah sore dan menjelang maghrib dengan keberatan hati kami pun meninggalkan lokasi dengan perasaan sedih, capek, senang, dll campur jadi satu dan bergegas mencari masjid untuk ishoma lalu balik ke penginapan menggunakan Trans Jogja 😍.


Backpacker Pemula Jogjakarta

Backpacker Pemula Jogjakarta


Dan cerita Jogjakarta belum sampai di sini karena terbatasnya saya untuk mengetik cerita selanjutnya maka setelah ini saya akan menuliskan cerita perjalanan kami menuju Kalibiru, Kulon Progo, Jawa Tengah jadi sabar yak hehehe . . .

Kalau ada kritik dan saran tentang penulisan , monggo di komentari ya biar lebih baik lagi dalam penulisan selanjutnya

To be continued . . .
😁

Lanjutan cerita kami di Kulonprogo Backpacker Kulonprogo

M. Rohman Wijaya

July 4, 2016

Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ?



Assalamualaikum

Hai pembaca sekalian, ini adalah blog pertama saya, sebelumnya ada blog blog saya yang serupa tapi ndak serius iseng-iseng hehe

Di post pertama saya di blog baru ini saya akan membahas tentang "Solo Touring, Berani?"

Yap, karena hobby saya yang suka bertravelling dan ditambah saya suka naik motor maka touring adalah hal yang menyenangkan, karena saya tidak terikat club manapun yang biasanya touring bareng-bareng clubnya, karena tidak ada club ya solo touring deh, pas ada teman ya lumayan dapat teman di perjalanan pas ada pacar juga lumayan buat teman tapi saya kan jomblo 'eh hehe

Sudah ah mulai sharing pengalaman dulu, perjalanan Solo Touring pertama saya yang paling jauh yaitu touring ke Taman Nasional Baluraan di Situbondo Jawa Timur kalau dari peta kebetulan saya dari Malang , Malang - Baluran jarakya sekitar 253Km di Google Maps atau perjalanan riding sekitar 6 jam, tapi pas waktu itu saya sering istirahat perjalanan dan mampir-mampir tempat wisata jadi perjalanan syaa kurang lebih menjadi 7 jam.

Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ?
dari Google Maps
Wah lumayan cukup jauh sih untuk pemula seperti saya tapi perjalanan kali ini mengesankan sekali banyak pengalaman dan cerita yang di dapat selama perjalanan atau setelah sampai di Baluran
Solo Touring kali ini terkesan mendadak karena tidak ada rencana mau ke tempat ini tapi karena niat yang kuat akhirnya saya tekadkan berangkat dari Malang sekitar pukul 09.00WIB ( kurang pagi ini ) tiba disana sekitar pukul jam 16.00WIB
Perjalanan ke Baluran saya memakai motor Yamaha New Vega-R keluaran tahun 2008 yang sudah ada ubahan di sektor mesin sedikit sehingga kapasitas ccnya sekitar 130an hehe.

Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ?
ini sewaktu di Pantai Bentar Probolinggo








Oh iya rute yang saya lewati adalah Malang-Purwosari-Pasuruan-Probolinggo-Paiton-Situbondo-Baluran, sewaktu berangkat saya beristirahat sebentar di Pantai Bentar Probolinggo, disini pantainya sepi pengujung mungkin karena bukan hari libur jadi belum banyak orang kesini, sampai di bentar sekitar jam 11an siang lumayan panas rehat sebentar minum ,makan , cuci muka , cekrek sana sini dan melanjutkan perjalanan menuju PLTU paiton.
Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ?
mejeng di pintu masuk
Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ?
jalan menuju ke gubuk
setelah rehat sejenak saya melanjutkan perjalanan kembali menuju ke PLTU Paiton , saya tidak sempat mengambil foto disini karena keterbatasan waktu yang semakin siang dan panas sudah menyengat. Kesan melewati paiton adalah sensasinya berbeda biasanya ketika ke Bali atau melewati jalan ini naik mobil atau bis eh sekarang saya pakai motor dan sendiri lagi hehe.

Ketika pinggang sudah mulai pegal ternyata saya sudah sampai di Besuki , ini sebuah kota kecil menurut saya tapi masih di wilayah situbondo, belum wilayah "kota"nya , saya tidak asing dengan Besuki karena dulu ketika kerja di lapangan saya sering mengunjungi daerah ini.

Setibanya di Kota Situbondo saya rehat sejenak di Indomart yang terletak di jalan raya Situbondo-Banyuwangi, kesan saya Kota Situbondo sudah ramai , dan tata kotanya sudah baik, fasilitas keselamtan jalan raya seperti rambu,traffic light dan marka jalan tampak baru sehingga memudahkan pengguna jalan raya ketika melewati daerah ini. Sembari minum dan melemaskan otot2 yang kaku saya cek2 posisi saya di Google Maps dan ternyata Baluran masih jauh pemirsa haha tapi tetap semangat dong, ketika saya liat jam menunjukkan sekitar pukul 14.00WIB..

Riding kembali setelah istirahat di Indomart kali ini melewati Alas Baluran , sempat putus asa karena waktu sudah menjelang sore tapi saya belum menemukan pintu masuk TN Baluran karena malu bertanya akhirnya saya sedikit2 cek Handphone via Google Maps, saya ikuti navigasi di HP saya ,yang tertulis sekitar 15KM lagi. Plintir gas pelan-pelan sambil tengok sekitar, dan akhirnya taraaa saya menemukan pintu masuk Baluran, dan terlihat rambu penunjuk arah tertulis 36KM menuju banyuwangi, dalam hati saya mudah-mudahan saya bisa riding ke Bali atau Lombok sekalian suatu saat nanti. Tapi alhamdulillah saya sudah sampai di Taman Nasional Baluran Situbondo.

Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ?
gerbang TN Baluran

Tiket untuk masuk saya lupa, mungkin sekitar 20-25ribu , ketika saya sampai disini waktu sudah sore hari sekitar pukul 15.00WIB. Saya bertanya petugas yang ada di loket ticket kira-kira berapa jauh untuk ke dalam TB Baluran beliau memberi info jaraknya kurang lebih 6KM, aspalnya tidak mulus dan bergeronjal karena aspalnya yang sudah rusak. dan sebagian jalan tanah.

Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ?
Savana Bekol 6KM dan Pantai Bama 9KM
Di TN Baluran sendiri banyak tempat-tempat wisata yang terkenal yaitu Padang Savana Bekol ( biasanya jadi tempat Pre Wedding dan Video Klip ) , Pantai Bama, Evergreen Forest dan masih banyak lagi, namun lagi-lagi karena waktu sudah sore jadi saya tidak bisa mengeksplor seluruhnya lain waktu saya akan berkunjung kesini lagi. Ditambah lagi saat saya kesini adalah saat musim kemarau jadi sepanjang perjalanan banayak ditemui tumbuhan yang sudah mengering dan sedikit ada yang hijau di Evergreen Forest, mungkin karena namanya Evergreen tumbuhan disini jadi jarang mengering hijau selalu, ah saya kurang tau, skip dah . .


Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ?
Jalan melaui Evergreen Forest

Riding disini agak kelelahan karena kurang baiknya sarana jalan yang ada disini, membuat motor terguncang hebat dan kita harus bisa mengendalikannya kalau tidak bisa cedera dan merugikan kita sendiri, setelah riding di jalanan yang kurang baik saya disambut Padang Savana Bekol, tempatnya bagus seperti di Afrika yang saya liat di film-film hehe lumayan gersang dan kadang bertemu burung merak , tapi saya belum ketemu seperti rusa,banteng dan hewan lain mungkin karena sudah sore mereka sudah ngandang ya atau saya aja kurang mengeksplor hehe. .

Setelah melewati Savana Bekol saya langsung menuju ke Pantai Bama yang terletak di ujung timur Taman Nasional ini, jalan sudah sedikit membaik tapi masih agak rusak menuju kawasan pantai Bamanya terlihat batu2 lumayan besar menghiasi sepanjang perjalanan saya.


Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ?
Savana Bekol
Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ?
Padang Savana di TN Baluran


Akhirnya setelah jalur yang melelahkan saya sudah sampai di Pantai Bama, jpantainya lumayan bagus, tidak ada ombak karena pantai utara, kata orang sih lumayan buat snorkling disini, Oh iya di Pantai Bama banyak monyet, monyet disini agak usil karena kalau ada pengunjung yang membawa makanan monyet ini langsung datang dan merebutnya, jadi hati-hati kalau bawa makanan disini, monyet-monyet siap merampas bekal anda hehe. Fasilitas di sini lumayan lengkap ada penginapan,musholla, toilet dll warung makanan juga terlihat. 

Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ?
cekrek dikit di pintu masuk Pantai Bama
Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ?
Pantai Bama

Akhir kata berkunjung ke Taman Nasioanal Baluran Situbondo cukup mengesankan disini semua ada, gunung, padang savana, pantai ada tapi karena musim kemarau jadi mungkin sedikit panas dan gersang, saran saya mungkin setelah musim kemarau akan terasa hijau dan segar hawa disini. Capek foto2 sayapun keluar dari Tn Baluran, menjelang petang saya sampai di gerbang masuk Baluran saya lihat jam tangan sudah menunjukkan sekitar jam 17.00WIB buru-buru gas saya plintir ke situbondo karena takut terlalu malam karena saya tidak terbiasa riding di malam hari karena faktor saya yang memakai kacamata dan keamanan karena saya sendirian jauh dari keluarga. Setiba di Situbondo saya membeli makanan dan check in di losmen di dekat Alun-Alun Kota Situbondo untuk istirahat dan membersihkan diri karena besoknya pagi-pagi saya harus check out dan menuju ke Malang.

Traveling Nekat | Pengalaman Solo Touring, Berani ?
Pantai Pasir Putih Situbondo

Di perjalanan menuju ke Malang saya mampir di Pantai Pasir Putih Situbondo sekalian isitirahat dan langsung gas menuju Malang. Semoga ada waktu menuju ke TN Baluran dan mengunjungi tempat indah lainnya.

Welcome Home !